PreviousArticle Masuk Ramadhan, Baznas Gencarkan Bantuan Sembako. Next Article Syarakh Al Hikam (2) Pahamilah Maqam Dirimu. Leave a Reply. Tinggalkan Balasan Batalkan balasan. Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu. Tradisi Panjang Jimat Saat Maulid Nabi di Keraton Kanoman Cirebon. PesantrenAlkahfi Somalangu merupakan salah satu pondok pesantren bersejarah tertua di Asia Tenggara yang masih eksis hingga saat ini, yang berada di desa Sumberadi, Kebumen, Jawa Tengah. Pesantren ini didirikan pada 25 Sya'ban 879 H atau Rabu, 4 Januari 1475 M. Pendirinya adalah Sayid Muhammad Ishom Al-Hasani atau yang dikenal dengan nama laqob Sayid Abdul Kahfi Al-Hasani, seorang tokoh UangMasuk. Rp. 750,000. Biaya Bulanan. Rp.80,000/Bulan. Alamat. Jl. Veteran, lorong Masjid Imam Syafi'i. Bangkle, Blora. Sekilas tentang Ponpes Ar Royyan Al islami Rimbo Bujang *Ponpes INI di dirikan oleh Al Ustadz Dano Abdurrazzaq Spd.I pada Tahun 2016, dan sebagai Payung Hukumnya adalah Yayasan Ar Royyan al Islami Tebo, Pesantren Ini Sesudahdari Salaman, saat itu berusia 15 tahun, mbah Dalhar dititipkan oleh ayahnya ke Pondok Pesantren Al-Kahfi, Somalangu, Kebumen. selama delapan tahun beliau diasuh oleh Syeikh As_Sayid Ibrahim bin Muhammad Al-Jilani Al-Hasani atau yang memiliki julukan Syeikh Abdul Kahfi Ats-Tsani. Selama di pesantren beliau berkhidmah di ndalem pengasuh SetelahIslam masuk dan berkembang serta berkat perjuangan dakwah para ulama, akhirnya upacara tersebut dapat diislamisasikan. baik berupa uang atau benda yang dimaksudkan sebagai biaya pesta pernikahan mereka. [5] Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu. Tradisi Panjang Jimat Saat Maulid Nabi di Keraton Kanoman Cirebon. Latest Tweets. Setelahitu, Abu Dzar al-Ghifari juga masuk Islam, lalu disusul oleh Zubair bin Awam dan Umar bin 'Anbasah serta Sa'id bin 'Ash. Jadi, Islam mulai mengepakkan sayapnya secara rahasia di Mekah. Kemudian berita tersebarnya akidah yang baru ini sampai kepada pembesar-pembesar Quraisy, tetapi mereka tidak begitu peduli. Barangkali mereka haK63. - Tidak seperti Pesantren Krapyak atau Pesantren Tebuireng, Pesantren Somalangu hanya sayup-sayup terdengar. Padahal dari segi usia, pesantren ini jauh lebih tua. Ia sudah berdiri sejak lima abad yang lalu. Pun Pesantren Somalangu tak kalah bersejarah karena pendirinya merupakan tokoh besar dan hidup sezaman dengan Walisanga. Hal lain yang tak kalah menarik dari Pesantren Somalangu adalah kedekatan pendirinya dengan Raden Patah, penguasa Kesultanan Demak. Mungkinkah pesantren ini jarang dibicarakan karena peristiwa kelam yang pernah terjadi di sana?Sang Pendiri Sayyid Abdul Kahfi Awwal al-Hasani baru berusia 24 tahun saat mendarat di Pantai Karang Bolong, Kebumen, pada 1448. Kala itu, Jawa berada dalam kekuasaan Majapahit dengan rajanya Prabu Kertawijaya—dikenal juga sebagai Prabu Brawijaya I memerintah 1447–1451. Gelar sayyid menunjukkan Abdul Kahfi yang bernama asli Muhammad Isham memiliki silsilah yang bersambung dengan Nabi Muhammad. Ayahnya bernama Sayyid Abdur Rasyid bin Abdul Majid al-Hasani, sedangkan ibunya bernama Syarifah Zulaikha binti Mahmud al-Husaini. Seturut Atabik dalam “Historisitas dan Peran Pondok Pesantren Somalangu di Pesisir Selatan” 2014, hlm. 192, Sayyid Abdul Kahfi diperkirakan lahir pada 1424, sedangkan tahun wafatnya diperkirakan 1609. Itu berarti usianya sangat panjang, yaitu 185 tahun. Setelah mangkat, ulama asal Hadramaut itu dikebumikan di Bukit Lembah Lanang, Sumberadi, Kebumen. Pada tahun-tahun pertama pengembaraannya di Jawa, Sayyid Abdul Kahfi tinggal berpindah-pindah dari Kebumen, Karanganyar, Surabaya, dan Kudus. Di Surabaya, dia membantu dakwah Sunan Ampel, sementara di Kudus dia mendirikan pesantren yang salah satu muridnya adalah kerabat Sunan Ampel yang bernama Sayyid Ja’far Shadiq atau lebih dikenal sebagai Sunan Kudus. Setelah 27 tahun hidup berpindah, Sayyid Abdul Kahfi akhirnya memilih tinggal di Demak. Di kota tersebut, dia menjadi dekat dengan sultan pertama Demak, Raden Patah 1455-1518. Hubungan Sayyid Abdul Kahfi dan Raden Patah sangat dekat. Ini dibuktikan dengan pernikahannya dengan putri sulung sang raja yang bernama Nur Thayyibah pada 1469. Kala itu, Sayyid Abdul Kahfi sudah berusia 45 tahun. Setelah memiliki anak, Sayyid Abdul Kahfi memboyong istri dan anaknya ke Somalangu, Kebumen, di tanah perdikan pemberian ayah mertuanya. Di desa itu, dia lalu merintis sebuah pesantren yang hingga setengah milenium kemudian tetap eksis. Pesantren Somalangu berdiri sejak 1475. Ini diketahui dari prasasti batu zamrud siberia emerald fuchsite yang terdapat di pesantren tersebut. Prasasti seberat sembilan kilogram tersebut memuat inskripsi dalam aksara Jawa dan Arab. Petunjuk angka tahun atau candrasengkala-nya ditulis dalam aksara Jawa, sedangkan penjabarannya dalam aksara Arab. Inskripsi beraksara Arab pada prasasti itu terbaca jelas 25 Sya’ban 879 H, bertepatan dengan 4 Januari 1475 Somalangu Sang Penerus Seturut Intan Dwi Anggraeni dan Darsono dalam “Peran Somalangu dalam Gerakan Angkatan Umat Islam di Kebumen Tahun 1945-1950” 2022, hlm. 56, salah satu keturunan Sayyid Abdul Kahfi al-Hasani adalah Sayyid Mahfudz bin Abdurrahman al-Hasani. Dia lebih populer dengan sebutan Kiai Somalangu. Dia lahir pada 9 November 1901. Pada usia tujuh tahun, Kiai Somalangu sudah hafal al-Qur’an dan kitab hadis al-Arba’in al-Nawawiyah karya ulama Damaskus Muhyiddin Abu Zakaria Yahya bin Syaraf al-Nawawi. Pada umur 16 tahun, dia belajar agama di Pesantren Tremas Pacitan, Pesantren Jamsaren Surakarta, Pesantren Watucongol Magelang, dan Pesantren Tebuireng Jombang. Ketika masih nyantri di Pesantren Tremas di bawah asuhan Kiai Dimyathi, Kiai Somalangu menulis dua buah karya yang berjudul Burhan al-Qathi’ yang membahas fikih Syafi’i dan al-Fawaid al-Syamilah fi al-Qawa’id al-Sharfiyyah yang membahas morfologi bahasa Arab. Kitab yang kedua terdiri dari dua jilid. Di pesantren yang sama, Kiai Somalangu berkawan dengan Abdul Kahar Mudzakir kelak menjadi tokoh Muhammadiyah. Sementara itu, saat belajar di Pesantren Tebuireng, dia dekat dengan putra pendiri Nahdhatul Ulama NU M. Hasyim Asy’ari yang juga pengasuh pesantren itu, yakni Abdul Wahid Hasyim. Abdul Kahar Mudzakir dan Wahid Hasyim di kemudian hari masuk dalam keanggotaan Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia BPUPKI. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Abdul Kahar lebih banyak berkecimpung di dunia akademik, sementara Wahid Hasyim ditunjuk Presiden Soekarno menjadi Menteri belajar di pesantren, Kiai Somalangu juga pernah merantau ke Tanah Haram dan berguru pada Sayyid Sa’id bin Muhammad Babashal di Misfalah, Makkah. Pengembaraan intelektual yang panjang menjadikannya seorang ulama yang fasih berbahasa Indonesia, Arab, dan Belanda. Infografik Mozaik Pesantren Somalangu. dan Ahmad Yani Pasca Proklamasi, sekelompok masyarakat di Kebumen mendirikan organisasi Angkatan Moeda AM yang berhaluan kiri. Untuk mengimbanginya, para pemimpin muslim dengan salah satu tokohnya yang kharismatik, yaitu Kiai Somalangu, mendirikan Angkatan Oemat Islam AOI. AOI yang didirikan pada Oktober 1945 itu merekrut kaum santri dan petani. Markas mereka dipusatkan di Pesantren Somalangu. Selain karena figur Kiai Somalangu serta jumlah santri dan loyalisnya yang banyak, Pesantren Somalangu dijadikan markas dan tempat latihan militer karena letaknya di selatan jalur kereta api dan dekat dengan perbukitan. Kiai Somalangu yang memimpin pesantren sejak usia 37 tahun sekaligus menjadi patron masyarakat muslim di Kebumen. Silsilahnya yang bersambung dengan Nabi Muhammad dan kepercayaan bahwa dia seorang wali menjadi daya tarik yang membuat ribuan orang bergabung dengan AOI. Jumlah anggota AOI diperkirakan mencapai 10 ribu orang yang berasal dari seantero Kebumen. Itu belum termasuk simpatisannya yang mencapai sekitar 30 ribu orang. Anggota dan simpatisan AOI banyak juga yang berasal dari kota-kota sekitar, seperti Banyumas, Kutoarjo, dan Wonosobo. Pada Agresi Militer Belanda I dan II 1947 dan 1948, AOI bersama TNI bahu-membahu mempertahankan kemerdekaan dari upaya Belanda yang ingin kembali menduduki Indonesia. Namun, hubungan baik itu rusak setelah Kabinet Hatta memperkenalkan kebijakan Re-Ra Restrukturisasi dan Rasionalisasi angkatan perang. AOI menolak kebijakan tersebut karena akan mengeliminasi anggotanya dari tubuh TNI. Dengan berbagai cara, Pemerintah mengajak Kiai Somalangu bernegosiasi, termasuk mendatangkan Menteri Agama Abdul Wahid Hasyim yang kebetulan kenal dekat dengannya. Sayangnya, tawaran itu ditolak. Setelah cara-cara damai ditempuh tanpa hasil, empat batalion TNI yaitu Batalion Sruhandoyo Gombong, Batalion Panudju dan Batalion Barus Purworejo, serta Batalion Suryosumpeno Magelang dengan pimpinan Letkol Ahmad Yani mengepung Somalangu pada 4 hingga 9 Agustus 1950. Sehari kemudian, pesantren tersebut berhasil diduduki Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat APRIS. Kiai Somalangu dan 600-an pengikutnya yang berhasil menyelamatkan diri lari ke Kroya, Cilacap. Karena semangat yang sudah runtuh, mereka gagal mengatasi serbuan APRIS pada 26 September 1950 di Gunung Srandil. Akibat pecahan mortir, Kiai Somalangu pun tewas. Jenazahnya dimakamkan di tempat itu juga. - Sosial Budaya Kontributor Firdaus AgungPenulis Firdaus AgungEditor Fadrik Aziz Firdausi Pesantren Al Kahfi, Somalangu, penyebaran ajaran Islam dan jaringan ulama di selatan Jawa sebagian wilayah Mataraman dipastikan tidak akan bisa lepas dari keberadaan Pondok Pesantren Somalangu al-Kahfi di Desa Sumberadi, Kabupaten Kebumen. Pondok pesantren ini sudah berdiri sangat lama. Mengacu pada prasasti yang dipahat di batu zamrud, umur pesantren ini malah lebih tua dua tahun dari Masjid Demak, yakni pada 26 Syaban 879 H 4 Januari 1475 M. Pesantren Somalangu didirikan oleh seorang ulama yang mantan pejabat tinggi asal Syihr, Hadramaut, Yaman, yakni Sayid as-Syekh Muhammad 'Ishom al-Hasani. Sosok ini oleh masyarakat di sana lebih dikenal dengan nama Sayid as-Syekh Abdul Kahfi Awwal mengacu pada nama pemberian gurunya, Sayid Ja'far bin Hasan dari 'Inath. Gelar "kahfi" dikenakan karena dia dikenal gemar menyendiri di dalam gua untuk Kahfi datang ke tempat itu setelah Sultan Demak memberikan perintah agar pergi dan tinggal ke pedalaman selatan Jawa itu. "Thama dha'u'' di situ tempatmu," begitu titah Sultan Demak kepada Syekh Abdul Kahfi ketika memintanya pergi ke selatan Jawa yang saat itu masih jarang penghuni dan penduduknya masih memeluk agama Hindu. Di riwayat lain Kuntowijoyo menyebut bahwa yang memerintahkan pergi itu adalah Raja Mataram, Sultan Agung Scroll untuk membaca Scroll untuk membaca "Pondok pesantren kami sudah sangat tua. Tak jauh dari masjid dahulu ada candi dengan lingga-Yoni yang sangat besar. Sebelum pondok berdiri di situ, masyarakatnya menganut agama Hindu yang dipimpin Resi Dara. Nama asli desa itu Alang-Alang Wangi. Para alumni dan santri tersebar ke banyak daerah, apalagi pendiri pondok ini juga punya hubungan darah dengan para ulama Sumatra Timur dan di Kesultanan Bugis, Makassar," kata Hidayat Aji Pambudi MA, salah seorang pengurus Yayasan Pondok Pesantren al-Kahfi, Somalangu. Menurut Aji, karena sudah berusia sangat tua, maka wajar bila kemudian para alumninya menyebar ke berbagai wilayah, terutama di wilayah Kedu Selatan, Cilacap, Banyumas, bahkan sejumlah pesantren di Cirebon juga ikut terkait. Temali jaringan ini semakin kuat karena antar para murid yang kemudian mendirikan pesantren, termasuk keluarga pesantren Somalangu, saling melanggengkan hubungan melalui ikatan didirikan, pesantren ini telah mengalami pergantian pimpinan secara turun-temurun sebanyak 16 kali. Para alumninya pun telah menjadi tokoh Islam terkenal seperi Kiai Abbas Buntet Cirebon, Kiai Dalhar Watu Congol Muntilan, dan Kiai Dahlan Jampes.''Kalau hubungan pernikahan keluarga pesantren ini juga menikah dengan banyak kiai berpengaruh di sekitar wilayah Kebumen, Banyumas, dan Cilacap. Sedangkan kalau jaringan santri alumni yang saling melakukan pernikahan sudah tak bisa lagi dilacak karena sudah tersebar luas dalam jangka waktu yang sampai 500-an tahun itu,'' ujar dakwah ulama HadramautFakta bahwa antarulama di selatan Jawa itu sudah lama membentuk jaringan masih bisa terlacak di Pondok Pesantren at-Taujieh al-Islamy didirikan KH Hisyam bin Zuhdy KH Hisyam Leler, di Kabupaten Banyumas bagian selatan. Para pengasuh pondok pesantren yang berada di perbatasan Banyumas dan Cilacap ini punya hubungan darah melalui perkawinan dengan SomalanguSelain itu, semenjak dahulu ulama pengasuh pondoknya juga sudah punya hubungan, baik ke ilmuan dan tarikat, dengan para kiai yang ada di Yogyakarta, Cirebon, dan Rembang Jawa Timur. Selain itu pesantren yang berdiri sekitar tahun 1915 juga terkoneksi dengan ulama di Haramain Makkah."Ayah kami, KH Hisyam, memang meneruskan dakwah sang ayah dengan mengurus pesantren. Di tangan generasi kedua, Pesantren Leler mengalami perkembangan cukup signifikan," kata salah satu putra KH Hisyam, KH Zakiyul membina santri, KH Hisyam berguru pada KH Kholil Harun, KH Bisri Mustofa Rembang, Syaikh Khosin Bendo Pare, Kediri. "Ayah juga ngaji kitab Bukhari pada Syekh Hasyim Asy'ari Tebuireng dan kitab Fathul Wahab pada KH Kholil Lasem," dengan Pesantren at-Tauzieh di Leler, pesantren besar lainnya di kawasan selatan Jawa adalah Pesantren Al Ihya Umuluddin di Kesugihan Cilacap. Pesantren yang usianya mendekati satu abad ini juga punya ikatan perkawinan dan jaringan keilmuan dengan pesantren tua yang lain. Salah satu pendirinya pun punya hubungan perkawinan dengan Pesantren dari segi keilmuan, mereka terkait dengan pesantren besar di Jawa Timur dan berbagai pesantren lain yang ada di pesisir pantai utara serta selatan Jawa. Tarikat yang dianut adalah tarikat Syatariyah tarikat yang juga dianut Pangeran Diponegoro dan ulama yang menggerakkan Perang Jawa pada tahun 1825 M. Bila ditarik lagi silsilahnya, para pengurus pesantren ini merupakan keturan Sunan Geseng, Sunan Kalijaga, dan Sunan Giri di Gresik."Jaringan ulama kami juga terkait dengan jaringan ulama yang ada di Kesultanan Demak. Di lain pihak kami juga hubungannya dengan jaringan ulama Yaman karena ada darah dengan Syekh Abdul Kahfi Somalangu. Para santri kami sudah menyebar dan mendirikan pesantren di banyak tempat. Salah satu saudara kami, misalnya, mendirikan Pesantren di Kebarongan,Banyumas,'' kata KH Nasrullah, salah satu pengurus Pesantren Ihya Umuluddin yang kini tengah mengawali pendirian Institut Agama Islam Imam Ghazali yang letaknya tak begitu jauh dari pengaruh jaringan ulama Cirebon juga terlacak di wilayah itu, terutama di pondok pesantren yang letaknya mulai mendekati arah kawasan pantai utara. Di Pesantren Jombor, yang ada di Cilongok, Kabupaten Banyumas. Pesantren ini didirikan oleh KH Abdussomad. Salah satu cucu Mbah Abudssomad adalah cendekiawan kondang yang menjadi khatib syuriah PBNU KH Masdar Farid Mas'udi."Jaringan ulama ini terkait dengan ulama dari Kesultanan Demak dan Cirebon. Dulu wilayah ini masuk Kadipaten Pasir Luhur yang merupakan 'wilayah yang dalam perlindungan' Kerajaan Sunda Pajajaran. Islam dibawa ke sini oleh Syekh Mahdum ulama dari Demak dan Syekh Abdussomad ulama dari Cirebon," kata Ahmad Khoirul Fahmi, penulis buku riwayat ringkas para ulama di senada juga dinyatakan Mustolih, santri Pondok Pesantren Al Azhari, Karangcengis, Banyumas. Menurut dia pendiri pesantrennya KH Yusuf Azhari itu punya hubungan darah atau kaitan dengan ulama di Cirebon. "Selain itu, jaringan pemikiran kiai kami juga terhubung dengan berbagai pesantren di Jawa lainnya, seperti Pesantren Krapyak di Yogyakarta. Selain itu, Mbah Yusuf juga sempat cukup lama menuntut ilmu di Makkah,'' fakta itu maka tampaklah bahwa ikatan jaringan ulama di selatan Jawa itu sudah berumur mendekati enam abad. Ini jelas waktu yang sangat pesantren dan Pohon SawoDan salah satu di antara ciri pesantren dan masjid tua adalah adanya tanaman pohon sawo kecik yang ada di setiap halaman pesantren. Hal itu bisa lihat di Masjid Ploso Kuning Yogyakarta yang dibangun oleh kakak Sultan Hamengkubuwono I. Masjid ini sempat menjadi tempat 'mengaji' Pangeran Diponegoro. Hal yang sama bisa juga terjadi di Pesantren Somalangu dan Leler. Di halaman masjid dan di samping masjid tertananam pepohonan sawo yang rimbun. Di Pesantren Somalangu pohon sawo kecik sempat ditebang karena terjadi perluasan dan pengerasan halaman masjid. Sementara itu di Pesantren Leler tampak pohon sawonya berdiri kokoh di depan masjid meski cabang dan daunnya Ingris Peter Carey menyatakan tanaman pohon sawo yang ada di depan setiap masjid itu menjadi ciri atau isyarat bahwa tempat tersebut adalah merupakan salah satu titik jaringan penyebaran agama Islam. Di zaman perang Diponegoro tanda ini menjadi efektif sebagai isyarat simpul perlawanan dan suplai logistik serta perekrutan prajurit.''Semua pesantren tua pasti di tanami pohon sawo. Itulah salah satu isyarat jaringan ulama,'' kata Peter Carey. Mengapa dipilih 'sawo kecik'? Jawabnya karena ini menjadi penanda bahwa semua Muslim harus bersikap 'sarwo becik' serba bagus/mulia. Selain itu sebagai isyarat agar umat Muslim berperilaku yang manis seperti manisnya buah sawo itu. IslamdiJawa DakwahIslamdiSelatanJawaTengah KABUPATEN Kebumen memiliki sekitar 167 pondok pesantren besar dan kecil yang tersebar di sejumlah kecamatan. Dari jumlah itu, ada beberapa pesantren yang berusia sangat tua. Salah satunya ialah Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu di Desa Sumberadi, Kecamatan/Kabupaten Kebumen. Pesantren ini dirikan tahun 1475 M oleh seorang ulama asal Hadharamaut, Yaman yang bernama Syekh As Sayid Abdul Kahfi Al Hasani. Tahun dan waktu berdirinya pesantren itu ketahui dari Prasasti Batu Zamrud Siberia Emerald Fuchsite yang terdapat di dalam masjid di komplek pesantren. Prasasti batu zamrud warna hijau itu bertuliskan huruf Jawa dan Arab. Huruf Jawa dengan candra sengkala yang tertulis "Bumi Pitu Ina" menandai tahun berdirinya. Sedangkan tulisan dalam huruf Arab merupakan penjabaran dari candra sengkala tersebut. Angka tanggal yang tertera dengan huruf hijaiyah ialah "25 Syaíban 879 H" atau bersamaan dengan Rabu, 4 Januari 1475 M. Jika angka tersebut benar adanya, pesantren Al Kahfi sudah berdiri sejak 537 tahun silam. Di usianya yang lebih dari lima abad, pesantren yang hanya berjarak sekitar 1,5 km dari Jalan Raya Kebumen-Kutoarjo itu masih bertahan menjadi pusat pendidikan islamiyah. Dari masa ke masa, pesantren ini menelurkan para ulama besar yang tersebar di nusantara. Bahkan pada masa perjuangan, pesantren Al Kahfi menjadi pusat perjuangan umat Islam dalam melawan penjajah Belanda. Dengan sejarah panjang yang dimilikinya, Pesantren Al Kahfi memang kaya akan peninggalan historis. Dari sisi bangunan, masih tersisa Masjid Al Kahfi yang berdiri kokoh. Masjid yang berada di dalam komplek pesantren itu masuk dalam daftar bangunan cagar budaya Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala BP3 Jateng. Konon saat dibangun pertama kali, masjid Al Kahfi dibangun dengan atap daun ilalang yang selalu mengeluarkan bau wangi. Adapun keunikan pada bangunan masjid yang masih bisa dijumpai ialah pada terakota mustaka masjid yang terbuat dari tanah liat, tertulis angka tahun 1299 Hijriyah atau 1878 Mesehi. Sedangkan pada genteng, terdapat tulisan menggunakan bahasa Belanda ìAboengamar Steen & Pannem Fabriek Sokkaî. Tidak hanya masjid, bangunan asrama pondok tempat belajar santri, sebagian masih menyisakan bangunan lama. Sebuah rumah panggung yang di bawahnya sekaligus ada kolam-kolam tempat wudlu juga masih dipertahankan. Di pintu rumah panggung tersebut tertulis nama komplek yakni ìPasukan Bangkong Reangî. Dalam cerita rakyat, Ki Bangkong Reang terkenal dengan kesaktiannya yang selalu membantu memberikan ilmu-ilmu baik ilmu agama maupun ilmu kanuragan. Ki Bangkong Reang merupakan tokoh yang sakti yaitu bisa berubah wujud menjadi katak, kodok dalam menyerang musuh. Sistem Pembelajaran Seiring dengan perkembangan jaman, Pesantren Al Kahfi Somalangi dipimpin oleh generasi penerusnya. Saat ini, pesantren tersebut dipimpin oleh KH Afifuddin Chanif Al Hasani atau Gus Afif yang merupakan generasi penerus keturunan ke-16 dan pengasuh pesantren tersebut. Setidaknya terdapat sekitar 700 santri yang terdiri atas 500 santri putra dan 200 santri putri. Sudah lima abad berdiri, pesantren ini mempertahankan metodologi pembelajaran klasik seperti sorogan dan bandongan. Kitab-kitab yang diajarkan antara ilmu nahwu, shorof fiqih, tafsir Alquran dan hadist. Beberapa kitab fiqih yang diajarkan seperti Safinatun Najah, Fatkul Qorib, Fatkhul Muíin, dan Fatkhul Wahab. Selain metode klasik, dalam pembelajaran agama pesantren Al Kahfi juga menerapkan sistem klasikal melalui madrasah diniyah madin. Santri terbagi sesuai tingkatan yakni Ibtida awal, Wustho dan Uliya. Sebagian proses pembelajaran agama itu dilaksanakan pada sore dan malam hari hingga setelah subuh. Maklum, sebagian besar santri juga belajar ilmu umum baik di SMP Al Kahfi, SMA Al Kahfi, dan SMK Al Kahfi. Sekolah umum yang berada di bawah yayasan pesantren dan lokasi gedungnya juga berada di dalam komplek pesantren. Gus Afif yang memimpin pesantren itu sejak tahun 1992-1993 tersebut awalnya mendirikan SMK Al Kahfi tahun 1995 dan sekarang berkembang memiliki 12 kelas. Sukses mendirikan SMK, tahun 2003 disusul mendirikan SMP Al Kahfi yang kini memiliki Sembilan kelas. Baru setelah itu dirikan SMA Al Kahfi yang baru memiliki tiga kelas. Sebagian siswa sekolah tersebut sembari mondok di pesantren, dan sebagian lagi siswa dari sekitar pesantren. Supriyanto-91 Sumber SEJAK berdiri pada tahun 1475 M, Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu yang berada di Desa Sumberadi, Kecamatan / Kabupaten Kebumen masih mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal hingga sekarang. Nilai-nilai kearifan lokal tersebut diwariskan sang pendiri Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu, As-Syeikh As-Sayyid Abdul Kahfi Al-Hasani. Menurut Pengasuh Pondok Pesantren Al Kahfi Somalangu, KH Afifuddin Chanif Al-Hasani, kearifan lokal yang menjadi 'sistem' ini juga dijalankan para penerusnya, baik dari jalur keturunan atau para mudir dan murid Syeikh Abdul Kahfi yang tersebar di berbagai tempat. Karenanya, tata nilai penghayatan ajaran Islam di Kebumen sering terlihat menjadi bagian dari kekayaan budaya lokal setempat, sebagaimana dicontohkan Syeikh Abdul Kahfi dan ulama penerusnya. Baca Juga Jatuh pada 12 April 2022, Ini Rahasia Weton Selasa Pon dari Pandangan Primbon Jawa Menurut Gus Afif, sapaan akrab KH Afifuddin Chanif Al-Hasani, kearifan lokal kerap diartikan sebagai kebijakan lokal local wisdom yang dimiliki, dihormati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, serta menjadi landasan moril perilaku masyarakat untuk merespons permasalahan sosial. Cakupannya meliputi sikap, pandangan, dan kemampuan suatu komunitas di dalam mengelola lingkungan rohani dan jasmaniny yang memberikan daya tahan serta daya tumbuh kepada komunitas tersebut. Misalnya para pendakwah Islam di daerah home base dakwahnya, biasanya akan membangun masjid sebagai pusat aktifitas sosial kemasyarakatan serta keagamaan. Pada umumnya, bangunan masjid akan mengadopsi arsitektural Timur Tengah. Baca Juga Real Madrid Vs Chelsea The Blues Tanpa Romelu Lukaku yang Cedera "Akan tetapi yang diterapkan oleh ulama Somalangu, dalam membangun masjid tidak harus mengadopsi arsitektural Timur Tengan seluruhnya. Malah pembangunan masjid yang dilakukan oleh Syeikh Abdul Kahfi banyak mengadopsi corak arsitektural Jawa," ungkap Gus Afif yang Rois Syuriyah PCNU Kebumen itu. Padahal, Syeikh Abdul Kahfi merupakan ulama yang lahir di Distrik Kota Syihr, Provinsi Hadhramaut, Yaman. Sejarah singkatnya, pertama kali mendarat di Pantai Karangbolong, Kecamatan Buayan, Kebumen pada tahun 1448, ketika Majapahit masih diperintah oleh Prabu Kertawijaya Prabu Brawijaya I, lalu kedatangan Syeikh Abdul Kahfi ke Pulau Jawa memilih Kebumen.*** Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Pondok pesantren "AL-Kahfi" Somalangu Kebumen merupakan Pondok Pesantren yang telah terhitung cukup tua keberadaannya. Karena Pondok Pesantren ini telah ada semenjak tahun 1475 M. Adapun tahun dan waktu berdirinya dapat kita ketahui diantaranya dari Prasasti Batu Zamrud Siberia Emerald Fuchsite berbobot 9 kg yang ada didalam Masjid Pondok Pesantren tersebut. Sebagaimana diketahui menurut keterangan yang dihimpun oleh para ahli sejarah bahwa ciri khas Pondok Pesantren yang didirikan pada awal purmulaan islam masuk di Nusantara adalah bahwa didalam Pondok Pesantren itu dipastikan adanya sebuah Masjid. Dan pendirian Masjid ini sesuai dengan kebiasaan waktu itu adalah merupakan bagian daripada pendirian sebuah Pesantren yang terkait dengannya. Prasasti ang mempunyai kandungan elemen kimia Al, Cr, H, K, O, dan Si ini bertuliskan huruf Jawa & Arab. Huruf Jawa menandai candra sengkalanya tahun. Sedangkan tulisan dalam huruf Arab adalah penjabaran dari candra sengkala tersebut. Terlihat jelas dalam angka tanggal yang tertera dengan huruf Arabic “25 Sya’ban 879 H” Ini artinya bahwa Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu resmi berdiri semenjak tanggal 25 Sya’ban 879 H atau bersamaan dengan Rabu, 4 Januari 1475 M. Pendirinya adalah Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al_Hasani. Beliau semula merupakan seorang tokoh ulama yang berasal dari Hadharamaut, Yaman. Lahir pada tanggal 15 Sya’ban 827 H di kampung Jamhar, Syihr. Datang ke Jawa tahun 852 H/1448 M pada masa pemerintahan Prabu Kertawijaya Majapahit atau Prabu Brawijaya I 1447 – 1451. Jadi setelah 27 tahun pendaratannya di Jawa, Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al-Hasani barulah mendirikan Pondok Pesantren Al_Kahfi Somalangu. Biografi Pendiri Nama aslinya adalah Sayid Muhammad Ishom Al_Hasani. Merupakan anak pertama dari 5 bersaudara. Ayahnya bernama Sayid Abdur_Rasyid bin Abdul Majid Al_Hasani, sedangkan ibunya bernama Syarifah Zulaikha binti Mahmud bin Abdullah bin Syekh Shahibuddin Al Huseini Inath. Ayah dari Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al-Hasani adalah keturunan ke-22 Rasulullah saw dari Sayidina Hasan ra, melalui jalur Syekh As_Sayid Abdul Bar putera Syekh As_Sayid Abdul Qadir Al_Jaelani Al_Baghdadi. Beliau datang dari Bagdad, Irak ke Hadharamaut atas permintaan Syekh As_Sayid Abdullah bin Abu Bakar Sakran Al_Idrus Al_Akbar untuk bersama – sama ahlibait nabi yang lain menanggulangi para ahli sihir di Hadharamaut. Setelah para ahli sihir ini dapat dihancurkan, para ahlibait nabi tersebut kemudian bersama – sama membuat suatu perkampungan dibekas basis tinggalnya para ahli sihir itu. Perkampungan ini kemudian diberi nama “Jamhar” sesuai dengan kebiasaan ahlibait waktu itu yang apabila menyebut sesamanya dengan istilah Jamhar sebagaimana sekarang apabila mereka menyebut sesamanya dengan istilah “Jama’ah”. Sedangkan wilayah tempat kampung itu berada kini lebih dikenal dengan nama daerah Syihr, Syihir, Syahar ataupun Syahr. Yaitu diambil dari kata “Sihir” mengalami pergeseran bunyi dibelakang hari, untuk menandakan bahwa dahulu wilayah tersebut memang sempat menjadi basis dari para ahli sihir Hadharamaut, Yaman. Ayah dari Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al-HAsani ini akhirnya tinggal, menetap dan wafat di Palestina, karena beliau diangkat menjadi Imam di Baitil Maqdis Masjidil Aqsha. Di Palestina beliau masyhur dengan sebutan Syekh As_Sayid Abdur_Rasyid Al_Jamhari Al_Hasani. Makam beliau berada di komplek pemakaman imam – imam masjid Al_Quds. Sedangkan 4 saudara Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al_Hasani yang lain tinggal serta menetap di Syihr, Inath serta Ma’rib, Hadharamaut. Sayid Muhammad Ishom Al_Hasani semenjak usia 18 bulan telah dibimbing dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan keagamaan oleh guru beliau yang bernama Sayid Ja’far Al_Huseini, Inath dengan cara hidup didalam goa – goa di Yaman. Oleh sang guru setelah dianggap cukup pembelajarannya, Sayid Muhammad Ishom Al_Hasani kemudian diberi laqob julukan dengan Abdul Kahfi. Yang menurut sang guru artinya adalah orang yang pernah menyendiri beribadah kepada Allah swt dengan berdiam diri di goa selama bertahun – tahun lamanya. Nama Abdul Kahfi inilah yang kemudian masyhur dan lebih mengenalkan pada sosok beliau daripada nama aslinya sendiri yaitu Muhammad Ishom. Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al_Hasani ketika berusia 17 tahun sempat menjadi panglima perang di Yaman selama 3 tahun. Setelah itu beliau tinggal di tanah Haram, Makkah. Kemudian Pada usia 24 tahun, beliau berangkat berdakwah ke Jawa. Mendarat pertama kali di pantai Karang Bolong, kecamatan Buayan, Kabupaten Kebumen. Setelah menaklukan dan mengislamkan Resi Dara Pundi di desa Candi Karanganyar, Kebumen lalu menundukkan Resi Candra Tirto serta Resi Dhanu Tirto di desa Candi Wulan dan desa Candimulyo kecamatan Kebumen, beliau akhirnya masuk ke Somalangu. Ditempat yang waktu itu masih hutan belantara ini, beliau hanya bermujahadah sebentar, mohon kepada Allah swt agar kelak tempat yang sekarang menjadi Pondok Pesantren Al_Kahfi Somalangu dapat dijadikan sebagai basis dakwah islamiyahnya yang penuh barokah dikemudian hari. Selanjutnya beliau meneruskan perjalanannya ke arah Surabaya, Jawa Timur. Di Surabaya, Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al_Hasani tinggal di Ampel. Ditempat itu beliau diterima oleh Sunan Ampel dan sempat membantu dakwah Sunan Ampel selama 3 tahun. Kemudian atas permintaan Sunan Ampel, beliau diminta untuk membuka pesantren di Sayung, Demak. Setelah pesantren beliau di Sayung, Demak mulai berkembang Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al-Hasani kemudian diminta oleh muballigh – muballigh islam di Kudus agar berkenan pindah dan mendirikan pesantren di Kudus. Problem ini terjadi karena para muballigh islam yang telah lebih dahulu masuk di Kudus sempat kerepotan dalam mempertahankan dakwah islamiyahnya sehingga mereka merasa amat membutuhkan sekali kehadiran sosok beliau ditengah – tengah mereka agar dapat mempertahankan dakwah islamiyah di wilayah tersebut. Setelah Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al-Hasani tinggal di Kudus dan mendirikan pesantren ditempat itu, Sunan Ampel kemudian mengirim puteranya yang bernama Sayid Ja’far As_Shadiq belajar pada beliau di Kudus. Tempat atsar pesantren Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al-Hasani di Kudus ini sekarang lebih dikenal orang dengan nama “Masjid Bubrah”. Adapun riwayat tentang “Masjid Bubrah” ini akan kita sajikan dalam bagian tersendiri. Ketika berada di pesantren beliau ini, Sayid Ja’far As_Sahdiq sempat pula diminta oleh beliau untuk menimba ilmu pada ayah beliau yang berada di Al-Quds, Palestina yaitu Syekh As_Sayid Abdur Rasyid Al-Hasani. Oleh karena itu setelah selesai belajar di Al-Quds, Palestina atas suka citanya sebagai rasa syukur kepada Allah Swt bersama Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al-Hasani, Sayid Ja’far As_Shadiq kemudian mendirikan sebuah masjid yang ia berinama “Al-Aqsha”. Oleh Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al-Hasani, Sayid Ja’far As_Sahadiq kemudian ditetapkan sebagai imam masjid tersebut dan Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al-Hasani kemudian pindah ke Demak guna membantu perjuangan Sultan Hasan Al-Fatah Pangeran Jimbun Abdurrahman Khalifatullah Sayidin Panatagama di Kerajaan Islam Demak. Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al-Hasani menikah di Demak pada saat usianya telah mencapai kurang lebih 45 tahun. Pada waktu putera pertamanya telah berusia kurang lebih 5 tahun, beliau bersama isteri dan puteranya itu hijrah dari Demak ke Somalangu untuk mendirikan Pesantren. Di Somalangu inilah beliau akhirnya bermukim dan pesantren yang didirikannya kemudian hari dikenal dengan nama Pesantren Al_Kahfi Somalangu. Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al_Hasani terhitung cukup lama dalam mengasuh Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu. Yaitu berkisar mencapai 130-an tahun. Oleh karenanya jika sejarah keadaan Pondok Pesantren Al-Kahfi Somalangu sepanjang kepengasuhan beliau dibeberkan akan menelan kisah yang cukup panjang. Syekh As_Sayid Abdul Kahfi Al_Hasani wafat pada malam jum’ah, 15 Sya’ban 1018 H atau bertepatan dengan tanggal 12 November 1609 M. Jasad beliau dimakamkan di bukit Lemah Lanang, Somalangu, Kebumen. Dan beliaulah orang pertama yang dimakamkan di tempat tersebut. PRASASTI batu zamrud warna hijau seberat 90 kilogram itu masih tersimpan di Pondok Somalangu, Desa Sumberadi, Kecamatan Kebumen. Jika angka di prasasti tahun 979 Hijriyah atau 1475 Masehi benar, pondok tersebut sudah berdiri sebelum nama Kebumen muncul. Perkiraan berdirinya Pesantren Al Kahfi Somalangu itu diungkapkan KH Afifuddin Chanif Al Hasani atau Gus Afif 40, selaku generasi penerus keturunan ke-16 dan pengasuh pesantren tersebut, Rabu kemarin. Dia menuturkan, dari berbagai manuskrip dan kitab-kitab kuna yang tersimpan serta risalah sejarah, daerah Kebumen kala itu 1475-an masih berupa rawa dan hutan. Bahkan daerah Somalangu dulunya hutan lebat. Lalu siapa sebenarnya pendiri Somalangu? Menurut Gus Afif, pendirinya tidak lain Sayid Muhammad Ishom Al Hasani atau lebih dikenal dengan nama Syekh Abdul Kahfi. Dia ulama yang berasal dari Jamhar, Hadramaut di Yaman. Konon awalnya Syekh Abdul Kahfi yang suka mengembara dari gua ke gua sehingga dijuluki Abdul Kahfi, kali pertama mendarat di Pantai Karangbolong. Untuk hal yang satu ini tentu perlu penelitian lagi. Namun Gus Afif menjelaskan, setelah mendarat di Pantai Karangbolong, Abdul Kahfi berjalan ke Karanganyar. Kala itu ada kampung sudah banyak penghuninya. Ulama dari Yaman itu lalu berhasil mengislamkan salah satu resi, bernama Darapundi. Menandai pengislamaan itu, desa tersebut dinamai Desa Candi. Abdul Kahfi berjalan ke arah timur Kebumen hingga bertemu dua resi lagi, yaitu Candratirto dan Danutirto. Dua resi itu pun bisa menganut Islam dan dua desa tadi kemudian dinamai Desa Candimulyo dan Desa Candiwulan yang Berlokasi dekat dengan Somalangu Desa Sumberadi. Gus Afif menjelaskan, dari anak keturunan Abdul Kahfi banyak yang menjadi ulama besar. Abdul Kahfi sendiri adalah ulama penasihat raja Raden Fatah Demak dan pernah mewakili Sunan Ampel dalam sebuah forum ulama membahas tentang pengikut Syekh Siti Jenar. Pondok Somalangu juga masih menyimpan tanda kenang-kenangan dari Hang Tuah, tokoh ulama keturunan Cina Melayu yang pernah datang ke Somalangu. Masih banyak kisah sejarah belum tersibak dari manuskrip dan kitab-kitab kuna karya para leluhur Somalangu. Cagar Budaya Muhammad Baehaqi, selaku konsultan perintisan cagar budaya itu mengakui, dari kajian beberapa ahli purbakala yang datang ke Somalangu, memang pesantren tersebut pernah menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa. Pihaknya mengusulkan agar Pesantren Somalangu berikut peninggalannya dijadikan cagar budaya religius. Awalnya memang ada pemikiran sederhana untuk mendirikan perpustakaan dan museum. Namun melihat aset budaya dan sejarah yang tersisa, mulai kitab-kitab lama, bangunan masjid tua, kawasan pondok, ada yoni dan lingga, serta perkampungan dengan rumah-rumah penduduk berarsitektur lama, kawasan Somalangu layak menjadi cagar budaya religius. Menurut Gus Afif Al_Hasani Pengasuh, khusus peninggalan kitab-kitab kuno dan manuskrip itu jumlahnya ribuan. Baru sebagian kecil telah dibaca dan dipelajari oleh ahli dari dinas kepurbakalaan Jateng. Karena itu dibutuhkan tempat sekaligus sistem perawatan naskah-naskah kuno yang erat dengan tinggalan sejarah itu. Tentu demi kepentingan ilmiah, wisata serta rekonstruksi sejarah. Demikian pula Masjid Somalangu. Hampir sebagian besar bangunan masjid kuno itu masih seperti adanya. Mulai mustaka masjid, mimbar dan tiang utama. Hanya beberapa tembok dan halaman sudah direnovasi. Bangunan induk berupa saka guru dan mustaka masih asli, sebagaimana awal didirikan sekitar tahun 1475. Sedangkan asrama pondok tempat belajar, sebagian masih menyisakan bangunan lama. Rumah panggung yang di bawahnya sekaligus ada kolam-kolam tempat wudlu pun masih tersisa. Kompleks pondok itu berjarak hanya nsekitar 1,5 kilometer dari jalan raya Kebumen-Kutoarjo Lihat Humaniora Selengkapnya

biaya masuk ponpes al kahfi somalangu